5 Gejala Jantung Koroner Sejak Dini

Jantung koroner merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Dalam situs Halodoc dijelaskan, jantung koroner terjadi ketika ada penumpukan kolesterol, lemak, atau zat lain pada pembuluh darah.

Bila plak makin menumpuk, arteri akan makin menyempit sehingga aliran darah dan oksigen ke jantung berkurang. Penumpukan substansi atau plak di pembuluh darah arteri disebut aterosklerosis.

Pembentukan plak dapat terjadi bertahun-tahun dan awalnya tidak menimbulkan gejala khusus. Penumpukan yang sudah gawat akan menimbulkan sejumlah gejala, salah satunya nyeri dada.  Untuk itu, anda dapat memilih macam-macam produk asuransi PFI untuk menjamin pelayanan kesehatan untuk Anda dan Keluarga Anda.

Gejala Utama Jantung Koroner

Dalam situs Alodokter dijelaskan, penyakit jantung koroner lebih sering terjadi pada orang berusia 45-54 tahun. Semakin bertambahnya usia, risiko pembentukan plak pada pembuluh darah jantung atau arteri koroner akan semakin tinggi.

Agar dapat memperoleh penanganan yang cepat dan tidak semakin membahayakan nyawa, ada baiknya Anda mengenali seperti apa gejala utama penyakit jantung koroner.

1. Angina

Angina adalah nyeri dada yang timbul akibat berkurangnya suplai darah ke otot jantung. Banyak orang menyebut angina dengan “angin duduk”.

Nyeri dada ini terjadi secara intens karena otot jantung tidak mendapat pasokan darah yang cukup. Sensasi nyerinya kerap digambarkan seperti tertimpa benda berat yang kemudian menyebar pada bagian lain tubuh, seperti lengan, rahang, pundak, dan punggung sebelah kiri.

Angina dapat berlangsung selama beberapa menit dan biasanya timbul karena dipicu aktivitas fisik atau stres. Angina pada perempuan biasanya lebih terasa pada bagian bawah dada dan perut.

2. Keringat Dingin

Serangan angina biasanya terjadi disertai keluarnya keringat dingin. Dalam situs Hellosehat dijelaskan, ketika pembuluh darah menyempit, otot-otot jantung akan kekurangan oksigen sehingga menyebabkan kondisi yang disebut iskemia.

Iskemia memicu keluarnya keringat berlebih dan penyempitan pembuluh darah. Sensasi ini sering disebut keringat dingin pada penderita jantung koroner. Iskemia juga dapat memicu reaksi mual dan muntah.

3. Sesak Napas

Salah satu pertanda jantung tidak bekerja dengan normal adalah sesak napas. Kondisi ini terjadi ketika jantung kesulitan memompa darah ke paru-paru. Sesak napas yang dialami penderita jantung koroner biasanya dibarengi dengan nyeri pada dada.

4. Serangan Jantung

Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke otot jantung tersumbat sehingga jantung tidak dapat mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini perlu penanganan yang cepat agar tidak terjadi kerusakan permanen pada otot jantung.

Gejala serangan jantung yaitu nyeri yang menjalar dari dada ke lengan, dagu, leher, perut, dan selama lebih dari 15 menit. Selain itu, penderita serangan jantung juga bisa mengalami sesak napas, pusing, gelisah, berkeringat, mual, dan tubuh terasa lemas.

Dalam situs Alodokter disebutkan, serangan jantung dapat terjadi tiba-tiba, terutama pada penderita diabetes dan lansia. Serangan jantung yang terlambat ditangani berisiko menimbulkan komplikasi seperti aritmia (gangguan irama jantung), gagal jantung, syok kardiogenik, dan jantung robek. Pada kasus terburuk, penderitanya bahkan dapat meninggal.

5. Gagal Jantung

Penderita jantung koroner juga berisiko mengalami gagal jantung, yaitu kondisi saat pompa jantung melemah, sehingga tidak mampu mengalirkan darah yang cukup ke seluruh tubuh. Akibatnya, darah menumpuk di paru-paru dan menyebabkan penderitanya mengalami sesak napas (gejala utama gagal jantung).

Gejala lain gagal jantung adalah sering merasa cepat lelah serta pembengkakan pada tungkai dan pergelangan kaki. Gagal jantung dapat terjadi secara tiba-tiba (akut) ataupun berkembang secara bertahap (kronis).

Gejala jantung koroner yang sering terabaikan adalah angina. Ini karena banyak orang mengira hanya sedang masuk angin saat angina terjadi. Bila Anda merasakan nyeri dada yang cukup intens, segera periksakan diri ke dokter untuk memastikan kesehatan jantung.

Diagnosis Jantung Koroner

Diagnosis Jantung Koroner

Bila Anda memperlihatkan sejumlah gejala jantung koroner, dokter akan melakukan sejumlah tes untuk menegakkan diagnosis penyakit tersebut. Berikut contoh pemeriksaan untuk mendiagnosis penyakit jantung koroner:

  • Elektrokardiogram (EKG)

Tes ini bermanfaat untuk mendeteksi struktur jantung yang tidak normal dan irama jantung yang tidak beraturan.

  • Ekokardiogram

Tes ini dilakukan untuk memeriksa fungsi jantung dan mendeteksi adanya masalah pada jantung.

  • Tes Stres

Tes ini dikenal juga dengan sebutan tes latih jantung. Tujuan tes ini adalah untuk menilai fungsi jantung Anda saat sedang beraktivitas dengan membuat jantung bekerja lebih keras. Anda akan diminta berjalan atau berlari di atas treadmill atau dokter akan memberikan obat tertentu yang akan meningkatkan kerja jantung.

Hal-hal yang Dapat Memicu Jantung Koroner

Umumnya, jantung koroner disebabkan faktor-faktor yang berkaitan dengan gaya hidup kurang sehat. Berikut beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda menderita penyakit jantung koroner:

1. Merokok

Kebiasaan merokok sudah pasti merugikan kesehatan secara umum. Namun, kebiasaan ini juga ternyata menjadi pemicu utama terjadinya jantung koroner. Dalam situs Halodoc disebutkan, kandungan nikotin dan karbon monoksida dalam asap rokok akan membebani kerja jantung sehingga membuat jantung bekerja lebih keras.

2. Diabetes

Dalam situs Alodokter dijelaskan, penderita diabetes memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi untuk terkena penyakit jantung koroner. Alasannya, penderita diabetes memiliki lapisan dinding pembuluh darah yang lebih tebal sehingga berisiko mengganggu kelancaran aliran darah ke jantung.

3. Penggumpalan darah (trombosis)

Penggumpalan darah di pembuluh darah vena atau arteri akan menghambat aliran darah ke jantung dan meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung. Dalam situs Alodokter disebutkan, proses terjadinya penggumpalan darah ini berhubungan erat dengan faktor lain; seperti proses peradangan, kadar kolesterol tinggi, gula darah yang tidak terkontrol, serta stres.

4. Kolesterol tinggi

Dikutip dari situs Halodoc, kolesterol adalah lemak yang dihasilkan hati dan memiliki peran penting untuk proses pembentukan sel sehat. Namun, ketika kadarnya terlalu tinggi, akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

Jenis kolesterol yang membuat risiko penyakit jantung koroner meningkat adalah low-density lipoprotein (LDL), yang biasa disebut sebagai kolesterol jahat. LDL memiliki kecenderungan untuk menempel dan menimbun di arteri koroner.

5. Tekanan darah tinggi (hipertensi)

Tekanan darah tinggi juga bisa meningkatkan risiko terjadinya jantung koroner. Anda disebut memiliki kondisi hipertensi bila tekanan sistolik di atas 130 mmHg, atau tekanan diastolik di atas 80 mmHg.

Tekanan sistolik adalah ukuran tekanan darah saat jantung berkontraksi untuk memompa darah keluar. Tekanan diastolik adalah tekanan darah saat otot jantung meregang untuk mengisi darah.

Cara Mencegah Serangan Jantung

Cara Mencegah Serangan Jantung

Penyakit jantung koroner tidak dapat disembuhkan karena otot jantung yang mengalami kerusakan tidak bisa ditumbuhkan kembali. Dikutip dari situs Halodoc, sekali katup jantung menjadi kaku dan kalsifikasi, tidak ada cara untuk mengembalikan fleksibilitas katup.

Namun, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya serangan jantung, yaitu salah satu gejala penyakit jantung koroner. Berikut tips mencegah serangan jantung yang dikutip dari situs Kompas.

1. Berhenti merokok

Semakin cepat Anda berhenti merokok, semakin baik dampaknya bagi kesehatan tubuh, terutama bagi jantung Anda. Dengan berhenti merokok, Anda tidak hanya menurunkan risiko Anda terkena serangan jantung, tetapi juga mengurangi risiko perokok pasif terkena penyakit kardiovaskular.

2. Menjaga kadar kolesterol

Semakin banyak LDL yang mengambang di sekitar aliran darah akan meningkatkan kemungkinan penumpukan di dalam arteri koroner. Penumpukan kolesterol itu yang nantinya dapat menjadi plak yang menghambat aliran darah.

Jaga kadar kolesterol tubuh agar tetap pada batas normal. Anda bisa melakukan ini dengan mengonsumsi makanan rendah lemak, memperbanyak asupan sayur dan buah, mengontrol berat badan, rajin berolahraga, dan konsumsi asupan tinggi serat.

3. Menjaga tekanan darah

Tekanan darah tinggi dapat memicu jantung koroner. Karena itu, Anda perlu menjaga tekanan darah agar tidak melebihi normal. Kurangi asupan yang mengandung garam, aktif bergerak dan berolahraga, dan kurangi asupan kafein.

4. Tidur cukup

Tidur atau istirahat cukup merupakan kebutuhan dasar manusia untuk bisa mendapatkan kesehatan yang menyeluruh. Perlu diingat, kurang tidur dapat memicu berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan jantung. Orang dewasa yang tidur kurang dari 7 jam sehari rentan mengalami penyakit yang berkaitan dengan gangguan jantung, seperti serangan jantung dan stroke.

5. Kelola stres

Stres tidak dapat dihindari. Namun, Anda bisa mengelola stres dengan baik agar kesehatan mental maupun fisik Anda tetap terjaga.

Stres yang terlalu berlebihan bukan hanya dapat meningkatkan risiko peradangan di tubuh, melainkan juga meningkatkan tekanan darah dan menurunkan kadar high-density lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik. Berbagai kondisi tersebut dapat memperbesar risiko terjadinya serangan jantung.

Selain menurunkan risiko terhadap jantung koroner, Anda juga perlu melindungi diri dari risiko kerugian finansial akibat sakit agar bisa menjalani hidup dengan lebih tenang. Faktanya, penyakit bisa datang tiba-tiba di waktu yang tak terduga. Jangan sampai musibah ini membuat Anda kelabakan hingga mengganggu rencana masa depan Anda.

Lindungi diri Anda dari risiko kerugian finansial akibat sakit dengan memiliki asuransi kesehatan. Bila Anda tiba-tiba sakit dan harus menjalani serangkaian pengobatan, asuransi kesehatan Anda akan membantu membayarkan biayanya sesuai dengan ketentuan yang terdapat di polis asuransi.

Beban Anda saat sakit akan lebih ringan bila Anda sudah memiliki asuransi kesehatan. Dikarenakan biaya pengobatan dan rawat inap ditanggung perusahaan asuransi, Anda dapat fokus pada upaya penyembuhan dan pemulihan.

Kondisi keuangan Anda pun tak akan terganggu. Anda tidak perlu mengeluarkan uang tunai dalam jumlah besar dalam satu waktu. Jadi, jangan tunda lagi untuk berinvestasi pada asuransi kesehatan. Pilih asuransi kesehatan yang memberikan manfaat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Anda.

Mega Hospital Investa adalah asuransi kesehatan dari PFI Mega Life yang memberikan manfaat santunan harian rawat inap karena sakit atau kecelakaan, santunan rawat inap ICU/ICCU, santunan meninggal dunia karena sakit atau kecelakaan, serta pengembalian premi (no-claim bonus). Manfaat perlindungan yang diberikan Mega Hospital Investa dapat Anda rasakan sampai usia maksimal 60 tahun.

Pastinya, ada banyak keistimewaan yang dimiliki asuransi Mega Hospital Investa. Mulai dari pilihan paket uang pertanggungan, 1 paket 1 premi, kemudahan seleksi risiko, dan kemudahan pengajuan klaim.

Dengan memiliki asuransi kesehatan, Anda juga dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang maksimal dan nyaman. Anda pun akan lebih tenang dalam menjalani hidup karena sudah memiliki perlindungan jaminan kesehatan yang dapat dimanfaatkan kapan saja.

Tinggalkan komentar