PLN mendukung implementasi kebijakan PLTS di permukaan

PLN mendukung implementasi kebijakan PLTS di permukaan


Jakarta (Antara) – PT PLN (Persero) terus melakukan komunikasi dengan pemerintah melalui Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara dalam mengimplementasikan kebijakan Menteri ESDM. 26 Tahun 2021 tentang PLTS pada permukaan berjaringan.

Wakil Presiden Eksekutif Dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, Corporate Communications and CSR PLN Agung Murdifi mengatakan langkah ini terus dilakukan untuk mendukung pengembangan PLTS atap guna menambah bauran energi baru terbarukan Indonesia.

“Koordinasi PLN dengan kementerian terkait sangat baik dan konstruktif sehingga kebijakan ini dapat berkelanjutan dan berjangka panjang, terutama dalam menjaga dampak terhadap posisi keuangan negara dan Keberlanjutan keuangan PLN maupun pada tingkat teknis operasional mengenai stabilitas dan keandalan sistem kelistrikan dan jaringan dalam melayani pelanggan.”

PLN bertanggung jawab untuk menjaga stabilitas dan keandalan sistem kelistrikan pelanggan. Menurut Agung, pembangkit listrik tenaga surya rooftop tanpa baterai bersifat intermiten, sehingga dalam skala besar berpotensi menimbulkan ketidakstabilan jaringan.

Ia juga menambahkan, PLN terutama mendukung transisi energi ke energi bersih, salah satunya melalui pembangkit listrik tenaga surya atap. Namun tentunya dengan melihat kualitas pelayanan publik.

Agung menjelaskan, “PLN sudah lama mendukung pembangunan PLTS rooftop. Sampai Maret 2022, ada 5.278 pelanggan PLN dengan total kapasitas PLTS 54.753 kilowatt.”

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan kapasitas terpasang panel surya atap mencapai 3,6 gigawatt selama tiga tahun ke depan. Pemerintah juga telah menetapkan energi surya atap sebagai program strategis nasional untuk mempercepat pencapaian target bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025.

Peningkatan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya atap akan bergantung pada sektor domestik dan industri untuk memaksimalkan pencapaian tujuan tersebut.

Berdasarkan prakiraan Kementerian ESDM, target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya atap (PLTS) sektor dalam negeri selama tiga tahun ke depan mampu menghasilkan daya listrik sebesar 1,52 gigawatt.

Asumsinya, jumlah pelanggan PLN yang akan memasang PLTS rooftop dengan target 2% dari pelanggan 1.300 voltampere (VA) dan 10% dari pelanggan 2.200 VA.

Sementara dari sektor perdagangan dan bisnis, pemerintah memperkirakan ada potensi energi hijau sebesar 1,30 GW, dengan 10 persen pelanggan PLN merinci 1.300VA hingga 14KVA dan 20 persen pelanggan di atas 14.000KVA juga merinci instalasi listrik. panel surya.

Sejauh ini, Asosiasi Tenaga Surya Indonesia (AESI) mengungkapkan masih ada kendala terkait penggunaan pembangkit listrik tenaga surya atap, terutama di sektor industri karena kapasitas listrik terpasang hanya terbatas pada 10 hingga 15 persen.

Presiden AESI Fabi Tomeiwa menilai pembatasan tersebut dapat berdampak pada pencapaian target bauran energi baru dan terbarukan serta investasi mengingat sektor industri merupakan kontributor utama dalam mendongkrak penggunaan energi surya di Indonesia.

Baca juga: Pemerintah Dorong Listrik Tenaga Surya Untuk Penuhi Kebutuhan Industri

Baca juga: AESI Minta PLN Tidak Batasi Penggunaan Panel Surya Atap di Sektor Industri

Wartawan : Sugiharto Purnama
Redaktur: Bodhi Suyanto
Hak Cipta © Antara 2022

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like