Ifo memperkirakan inflasi akan meningkat lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, mencapai antara 5,1% hingga 6,1% pada 2022, dibandingkan dengan asumsi sebelumnya sebesar 3,3%.
Jakarta (Antara) - Ifo Institute, sebuah think tank yang berbasis di Munich, pada Rabu (23/3) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Jerman dengan memperkirakan produk domestik bruto negara itu hanya akan naik antara 2,2% hingga 3,1% pada 2022.
Krisis Rusia-Ukraina telah “membatasi pertumbuhan ekonomi dan mempercepat inflasi di Jerman,” menurut institut ifo. Pada Desember 2021, badan tersebut masih memperkirakan pertumbuhan PDB Jerman sebesar 3,7 persen untuk tahun ini.
Dengan ketidakpastian yang membayangi, institut ifo mengidentifikasi dua skenario untuk evolusi harga energi. “Tahun ini, harga energi memiliki dampak khusus pada pengeluaran konsumsi pribadi,” kata badan tersebut.
Skenario optimis mengasumsikan bahwa harga minyak akan turun secara bertahap dari level 101 euro saat ini (1 euro = 15.809 rupee) per barel menjadi 82 euro pada akhir tahun.
Dalam skenario pesimis, harga minyak akan terus naik menjadi 140 euro per barel pada Mei dan hanya akan turun menjadi 122 euro pada akhir tahun.
Ifo memperkirakan inflasi akan meningkat lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, mencapai antara 5,1% hingga 6,1% pada 2022, dibandingkan dengan asumsi sebelumnya sebesar 3,3%.
Jerman diperkirakan akan kehilangan sekitar enam miliar euro dalam daya beli karena harga konsumen yang lebih tinggi pada kuartal pertama saja.

Namun, Timo Walmerschizer, kepala prakiraan di IFO, mengatakan “peningkatan permintaan di sektor manufaktur dan normalisasi pandemi virus corona akan memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian.”
Reporter: Xinhua
Editor: M Razi Rahman
Hak Cipta © Antara 2022





